Friday, 29 May 2015

Ramadhan dan Kampungku

Ramadhan datang lagi, umat islam di seluruh dunia menyambutnya dengan berbagai macam kegiatan, ada yang mengadakan pengajian, sukuran dan lainnya tak terkecuali aku, aku juga selalu menyambut datangnya bulan ini, walau disana sini penyambutannya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan namun aku hanya menyambutnya dengan hati yang tulus dan tanpa kebohongan.

 Di kampungku dulu ramadhan terasa begitu ramai, ceria dan bersahaja. Saat itu aku masih  tinggal di kampung, kampung yang jauh dari hiruk pikuk dan suara-suara gaduh kendaraan  bermotor bak di kota-kota besar. Aku dan teman-teman selalu bermain apapun yang ada.  kelereng, petasan dan layang-layang.

 Kampung ku mempunyai musholla banyak bahkan bisa disebut kampung 1001 musholla.  Setiap subuh terdengar suara orang-orang membaca al-qur;an, suara itu seolah saling  menyahut dari sana sini bak suara kokok ayam yang saling bersambut dengan riang pagi  hari, siang hari kampung terasa sepi bak ditinggal penghuninya, namun sorenya anak-anak  pada keluar ke pinggiran jalan sementara para orang tua sibuk menyiapkan makanan buat buka puasa keluarganya masing-masing. malam hari semua warga kampung  melaksanakan shalat tarawih di musholla-musholla sekitar kemudian dilanjutkan dengan  membaca al-qur;an.

Namun hal itu sekarang sudah mulai sirna. Kampung ku kini teras sepi, sunyi.. Entah kenapa? tak ada lagi suara orang-orang yang mengaji, riangnya anak-anak kecil bermain. Mungkinkah ini akibat perubahan jaman atau mungkin ramadhan sudah dianggap tidak istimewa lagi di mata mereka.

Ramadhan oh ramadhan, apakah yang terjadi dengan mu kini. Kendati begitu aku masih sangat yakin sampai kapanpun Ramdhan akan menjadi bulan yang istimewa dari pada bulan-bulan yang lainnya, bulan dimana kitab suci al-qur;an diturunkan ke bumi.


Apakah yang harus aku lakukan!, akan kah aku bisa mengembalikan keceriaan bulan suci di kampung ini, kampung yang dulu riang, nyaman dan damai,, kampung dimana aku dilahirkan ke dunia. Kampung ini sekarang telah berubah menjadi kampung yang angkuh bagi warga nya sendiri maupun pendatang, orang-orang nya sibuk memupuk kekayaan masing-masing. Kampung ini menjelma bak kota besar yang memang sudah terkenal motto nya lo gw, lo gw.