Ramadhan datang
lagi, umat islam di seluruh dunia menyambutnya dengan berbagai macam kegiatan,
ada yang mengadakan pengajian, sukuran dan lainnya tak terkecuali aku, aku juga
selalu menyambut datangnya bulan ini, walau disana sini penyambutannya dengan
mengadakan berbagai macam kegiatan namun aku hanya menyambutnya dengan hati
yang tulus dan tanpa kebohongan.
Di kampungku dulu ramadhan terasa begitu
ramai, ceria dan bersahaja. Saat itu aku masih
tinggal di kampung, kampung yang jauh dari hiruk pikuk dan suara-suara
gaduh kendaraan bermotor bak di
kota-kota besar. Aku dan teman-teman selalu bermain apapun yang ada. kelereng, petasan dan layang-layang.
Kampung ku mempunyai musholla banyak bahkan
bisa disebut kampung 1001 musholla.
Setiap subuh terdengar suara orang-orang membaca al-qur;an, suara itu
seolah saling menyahut dari sana sini
bak suara kokok ayam yang saling bersambut dengan riang pagi hari, siang hari kampung terasa sepi bak
ditinggal penghuninya, namun sorenya anak-anak
pada keluar ke pinggiran jalan sementara para orang tua sibuk menyiapkan
makanan buat buka puasa keluarganya masing-masing. malam hari semua warga
kampung melaksanakan shalat tarawih di
musholla-musholla sekitar kemudian dilanjutkan dengan membaca al-qur;an.
Namun hal itu
sekarang sudah mulai sirna. Kampung ku kini teras sepi, sunyi.. Entah kenapa?
tak ada lagi suara orang-orang yang mengaji, riangnya anak-anak kecil bermain.
Mungkinkah ini akibat perubahan jaman atau mungkin ramadhan sudah dianggap
tidak istimewa lagi di mata mereka.
Ramadhan oh
ramadhan, apakah yang terjadi dengan mu kini. Kendati begitu aku masih sangat
yakin sampai kapanpun Ramdhan akan menjadi bulan yang istimewa dari pada bulan-bulan
yang lainnya, bulan dimana kitab suci al-qur;an diturunkan ke bumi.
Apakah yang harus
aku lakukan!, akan kah aku bisa mengembalikan keceriaan bulan suci di kampung
ini, kampung yang dulu riang, nyaman dan damai,, kampung dimana aku dilahirkan ke
dunia. Kampung ini sekarang telah berubah menjadi kampung yang angkuh bagi
warga nya sendiri maupun pendatang, orang-orang nya sibuk memupuk kekayaan
masing-masing. Kampung ini menjelma bak kota besar yang memang sudah terkenal
motto nya lo gw, lo gw.