Tuesday, 15 May 2012

Cinta Numpang lewat


Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba aku terjebak dalam susana yang rumit. suasana itu seakan-akan mengurungku hingga aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku masuk sebuah kantor beberapa tahun lalu. Setiap harinya aku mengerjakan berbagai macam hal. Runitinitas itu aku jalani seperti biasa. Awal mula aku bergabung di kantor ini sekitar 2 tahun lalu tepatnya pada penghujung tahun 2009, waktu itu aku secara tiba-tiba di telpon sama temanku.
 “Dmn bro” katanya,
“kos, np emang?”,
 “buruan kesini, pntng”. Katanya.
Dari perbincangan yang cukup singkat itu, aku langsung bergegas menuju ke rumah sang teman, begitu sampai di sana ternyata sudah banyak teman-teman lain yang menunggu. Selidik punya selidik ternyata mereka juga berniat masuk kantor tersebut. Di rumah tersebut aku berdiskusi dengan mereka dan beberapa jam kemudian, kita ber enam langsung jalan ke kantor tersebut. PT Ika namanya. Kantor itu letaknya cukup strategis, di salah satu jalan yang cukup terkenal di ibukota. Setelah berdiskusi cukup panjang dan menyerahkan berbagai macam hal, akhirnya aku dan ke lima temanku resmi bergabung di kantor tersebut.


Hari-haripun aku lalui dengan rutinitas-rutinitas yang hampir sama setiap harinya, namun tanpa terasa hari terus berganti hari, bulanpun terus berganti, kebersamaan yang kita jalani sampai pula di titik ujung perpisahan, karena tiba-tiba saja sebagian dari temanku memutuskan untuk keluar dari kantor tersebut, meskipun cukup berat, aku dan sebagian temanku merelakan keputusan mereka. Maka tinggalah aku dan beberapa teman yang masih di kantor tersebut sampai sekarang.

Beberapa bulan paska hengkangnya sebagian temanku, masuklah beberapa orang baru untuk mengisi kekosongan di kantorku, diantara orang-orang baru tersebut beberapa diantaranya ada perempuan. Munculnya orang-orang baru tidak serta merta membuat orang lama senang maupun benci, Namun mau ga mau orang-orang lama harus berbaur dengan mereka termasuk aku, Akupun mencoba beradaptasi dengan mereka.

Beberapa bulan setelah masuknya anak-anak baru tersebut, beberapa dari senior maupun rekanku di kantor tiba-tiba mempunyai kebiasaan baru yakni meng gosip, mereka tiba-tiba saja berpikir untuk menjodoh-jodohkan beberapa anak di kantorku.
“mungkin karena ada perempuan baru” pikirku.
Selama lebih dari satu tahun kantorku terasa hampa, kaku dan kurang ada semangat kerja, namun setelah kemunculan beberapa “teman baru”, suasana kantor jadi lebih ceria, hidup dan lebih segar. Salah satu yang membuat semangat rekan-rekanku di kantor adalah adanya gosip.  Gosip identik dengan perempuan namun di kantor ku malah gosip lebih disukai laki-laki. Setiap hari rekan-rekanku suka ngegosipin satu dan lainnya, makin lama gosip pun terus merebak bak bunga yang baru mekar. Namun aku hanya menganggapnya biasa aja atau have fun. sampai suatu ketika aku pun kena gilirannnya. Aku di jodoh-jodoin ama salah satu perempuan baru di kantor, Sukma namanya. Sekilas tampangnya biasa aja namun dia memiliki beberapa kelebihan.

Gosip tentang aku dan sukma makin hari makin membesar karena beberapa rekan dan junior ikut menjadi tim sukses mengembangkan gosip ini. awalnya aku memang cuek dan menganggapnya biasa aja, karena memang menurutku ini semua hanya gosip atau buat senang-senang belaka, namun seiring berjalannya waktu cerita pun berubah. Sukma menunjukan tanda-tanda kalau dia menikmati gosip tersebut, lama-lama gosip pun berubah menjadi layaknya sebuah drama. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Sampai pada akhirnya tanpa sadar akhirnya aku terjebak kedalam drama ini.

Hari-hari ku di kantor selanjutnya diwarnai dengan gosip-gosip hangat dan actual, setiap aku dan sukma bekerja berbarengan dikantor pastilah anak-anak terus menggoda aku dan juga sukma, semakin lama aku pun semakin menikmatinya. Entah mengapa setiap ada sukma di kantor, aku langsung mengeluarkan gombalan-gombalan yang muncul dengan sendirinya sampai-sampai sukma pernah bilang  “harusnya jadi raja gombal nih” begitu katanya.

 Anehnya gombalan-gombalan tersebut terus datang ketika ada sukma.. Teman-temanku di kantor seakan-akan terus bersemangat menyatukan kami berdua sampai suatu ketika ada salah satu teman yang terus membujuk aku untuk pesta kecil-kecilan bareng anak-anak sampai-sampai temanku ini membujuk sukma untuk menyetujui usulannya dan tidak disangka sukma mendukung sampai keluar kata-kata dengan sedikit bercanda
“kalau ga mau, gw ga akan negor-negor lo lg” katanya.

Mendengar itu aku pun luluh dan mau ga mau harus melakukannya, kemudian pesta kecil-kecilnya itu dilakukan, aku bareng anak-anak dan juga sukma sendiri. Seiring terus berjalannnya hari, drama romansa itu terus meningkat. Namun aku sama sekali belum menemukan sesuatu pada diri sukma.

Kondisi ini membuat aku terjebak dalam dua dunia, disatu sisi aku menganggapnya hanya untuk hiburan, karena pada suatu ketika aku pernah bilang kepada salah satu temanku bahwa sukma hanya hiburan semata. Namun disisi lain aku terjebak dalam keragu-raguan. Ragu apakah aku benar-benar suka atau ga sama dia. Sampai suatu ketika salah satu kawanku dikantor pernah ada yang bertanya.
“gmn lo ma sukma”?
spontan aku bilang “da jadian” .
Respon kawanku cukup kaget namun dia berusaha menutupinya. Memang aku sering curhat masalah sukma ke salah satu kawanku ini. Dodo namanya, dia pemuda yang datang dari selatan pulau jawa. Tanpa sengaja aku sering ngbrol-ngbrol ma dia tapi malah keterusan sampai kadang-kadang kita saling curhat-curhatan. Suatu ketika aku mengobrol cukup intens dengan salah satu seniorku dikantor, OM, begitulah kupanggil dia. Dia memang terus menerus menyemangati kalau aku harus segera memfiniskan drama ini, namun mesti hati-hati juga, katanya. Menurutnya ada salah satu rekan di kantor yang suka juga sama sukma. Dari situ akhirnya aku tau kalau memang ada salah satu rekanku yang suka juga. Di hari-hari berikutnya aku mencoba menyelidikinya karena memang aku tidak mudah percaya ama gosip.
***
Sore itu kantor mengadakan acara, sebagian dari rekan-rekanku tidak bisa mengikuti acara tersebut. Acara ini dimulai dengan sambutan-sambutan kecil dari pimpinan kemudian acara ini dilanjutkan dengan makan bersama sembari berbincang-bincang santai. Saat beberapa rekan dan juga pimpinanku berbincang tiba-tiba ada salah satu pimpinan berkata,
“sukma dianter ma siapa”,
spotan salah satu rekanku nyeletuk “tenang bu, ada si Is”. Mendengar itu aku cukup kaget.
“ternyata si Is ini yang dimaksud ma Om” pikirku dalam hati.

Is merupakan salah satu rekanku di kantor, di kantor di mengerjakan berbagai macam hal mulai dari OB sampai ikut tender ke perusahaan lain. Diluar kantor dia merupakan salah satu vocalis band underground cukup fenomenal yang ada di Jakarta, meskipun belum terkenal namun dia cukup senang menggelutinya, belakangan diketahui Is meneruskan sekolahnya yang sempat tersendat.
Hari-hari ku di kantor dilalui dengan tenang walaupun kadang agak berhati-hati.
“mungkin karena ada si Is ini” pikirku.
Setiap ketemu sukma, aku langsung mengeluarkan rayuan kalau kata orang mah over acting, hal itu sama sekali tidak aku pedulikan, sementara si Is tetap tenang seperti tidak ada apa-apa. Sampai suatu hari sukma sakit dan izin dari kantor untuk beberapa hari, spontan aku kelabakan, aku bertanya pada salah satu temanku.
“sukma sakit ya”,
“iya” katanya
kemudian dia malah bilang “kalau serius, tengokin dong”.
Mendengar itu aku kebingungan. “Tengokin atau ga ya” pikirku.
Aku segera meminta pendapat rekan-rekan, sebagian dari mereka menyarankan tengokin aja, namun sebagian lain bilang jangan dulu lah, sms aja. Besoknya aku memutuskan untuk menjenguknya, karena belum tau aku mencoba menelpon si Is, setelah ngbrol cukup panjang, sayangnya Is tidak mau ngasih alamatnya.
“Mungkin dia jeles” pikirku.

Dari situ hubungan aku dan Is renggang, namun karena berbagai faktor, akrab lagi sampai saat ini. Hari-hari berikutnya hubungan ku ama sukma berjalan biasa-biasa saja, saling negor, ngerayu, ketawa bareng dan lain nya sampai suatu hari aku iseng memotrek sukma dari kejauhan tanpa sepengetahuannya atau bahasa kerennya “Candid Foto”, aku pun menunggu momen yang tepat untuk memotretnya, nunggu dan terus menunggu sampai momen itu datang dan shittt, kamera ku macet, sukma da kepalang tau dan aku pun hanya dapat sebagian kecil dari gambarnya, itupun kualitasnya jelek. Seolah-seolah tidak terjadi apa-apa itu aku langsung pulang sembari melirik ke arahnya.

Aku melihat ada ketidaksukaan di wajahnya karena keisengan ku tersebut, namun aku tetap pergi tanpa mempedulikannya. Sampai dirumah aku kepikiran, lalu siangnya aku mengambil HP kemudian mengirim sms yang isinya permintan maaf, namun tak ada reaksi, aku hanya cuek aja seperti tidak ada yang sedang terjadi. Tanpa ada firasat apa-apa, bencana itupun datang, dan jreng…. pada malam harinya aku mengecek salah satu jejaring social dan kudapati beberapa kalimat yang mengindikasikan kan kalau sukma benar-benar benci banget ma aku,
“mulai detik ini dia ga bakal negor-negor lagi”. Tulisnya dalam akun fb ku
Melihat itu aku hanya bisa kaget, namun perasanku bercampur baur dibuatnya, spontan aku sms balik dengan kata-kata pembanding. Setelah kejadian itu aku hari-hari di kantor di tandai usaha-usaha mencoba minta maaf kerena memang aku merasa bersalah, namun apa yang terjadi! ternyata sukma berubah 360 derajat, sampai aku sempat berfikir “dia mempunyai hati yang sekeras batu, dia tipe perempuan yang tidak mudah memaafkan seseorang.

Haripun terus berjalan tanpa mempedulikan perasaanku yang lagi berantakan, dan seiring berjalannya hari sukma sama sekali tidak berkutik, dia tetap mempertahankan rasa ego nya, aksi diamnya terus berlanjut sampai hari ini. Diam dan terus diam tanpa mengeluarkan kata-kata satu huruf pun kepada ku. “Menyesal dan terus menyesal”, kata-kata itu beberapa hari bahkan bulan sempat nongkrong di pikiranku namun apa daya, aku tidak bisa berbuat banyak. Konsultasi demi konsultasi aku lakukan dengan beberapa rekanku, mereka menyarankan untuk memakai orang ketiga namun ada juga rekanku yang lain ada juga yang bilang
“udahlah ky, diamkan saja dulu”,
“sampai kapan” tanyaku,
“yah sampai dia negor”. Hadeuhh.

Beberapa minggu kemudian aku dipindah tugaskan keluar kota untuk beberapa bulan, antara senang dan sedih aku menerima, senang bisa lari dari masalah namun sedih karena masih belum bisa berbaikan dengan sukma. Dua hari berikutnya dengan perasaan yang campur aduk, aku dengan berat hati pergi meninggalkan kantor menuju kantor cabang yang jauh diluar kota, hari itu aku berpamintan dengan para pimpinan dan juga rekan-rekanku dikantor, disitu aku merasa ada yang kurang dan setelah di cek ternyata sukma tidak hadir di hari keberangkatan ku, aku pun sempat menunggunya namun Sukma tidak menampakkan batang hidungnya, lalu aku menghampiri Is yang dari tadi ada dirombongan, sembari berbisik
“tolong jagain dia ya Is”.
Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka.          
***


 

No comments:

Post a Comment