Friday, 11 November 2011

Merpati ku

Kuhampiri kuda besi yang terparkir di halaman rumah kost, tiba-tiba aku melihat tiga gadis yang melintas beberapa meter dihadapanku. Ketiga nya terlihat cukup akrab, bercanda dan sesekali terlihat melirik ke arahku dan tentu itu tidak saja membuat aku grogi, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri.

Akupun memperhatikan ketiga nya sampai lupa kalau aku sedang ditunggu seseorang. Ditengah perhatianku pada ketigannya akupun akhirnya terfokus pada salah satunya, kulihat adanya perbedaan dalam gadis itu, dia terlihat begitu anggun, wajahnya manis, kulitnya putih tingginya ideal.

“kalau kata orang sempurna” bisikku

Kutatap dia yang begitu anggun sampai terlintas bak ratu cleopatra dari mesir yang dengan kecantikannya dapat meluluhkan hati Julius Caesar. Dalam lamunan itu tiba-tiba aku tersadar, kulihat dia bersama dua rekannya berjalan menapaki jalan aspal yang telah hitam legam, jauh dan makin menjauh sembari tetap mengobrol asik.

“Pasti lagi ngerumpiin cowok” pikirku.

Tanpa pikir panjang kuikuti langkah ketiga nya. Dipersimpangan jalan ternyata salah satu berhenti, Kulihat dari kejauhan ternyata gadis itu. Yah, Gadis yang membuatku terkesima. sementara dua rekannya melanjutkan langkah ke rumahnya masing-masing. Aku tetap berada dibelakang gadis nya. Berhenti sejenak, kulihat dia mengambil kunci dari sakunya, kemudian memasukan kunci itu ke pintu, dan  disaat dia masih terlihat di depan pintu sembari memegang kunci, aku berfikir ingin rasanya hati ini bilang “baru pulang neng” tapi “hmm”, susah. Susah sekali lidah ini mengeluarkan satu kata pun.tiba “krek” kudengar suara pintu terbuka, dan kulihat dia masuk. sementara aku masih terdiam tak bergerak tepat beberapa meter di depan rumahnya.

“parah-parah” sungguh sangat menyesel diri ini, “kenapa tadi ga ada kekuatan sama sekali tuk menegor’”bisikku, “kring-kring” Hp ku berdering, kulihat kawanku menelpon. akhirnya akupun segera melanjutnya perjalanan ke tempat kawanku, dan ditengah perjalanan itu, aku merasa kecewa,  kecewa belum bisa berkenalan dengan gadis tersebut, aku berpikir, “pasti ada kesempatan kedua”,

Saturday, 29 October 2011

Keluar!

Mendung sore Jakarta membuatku bimbang, “knapa kau?” celoteh iman. Iman salah satu sahabat ku yang cukup setia. Ditengah kemacetan Jakarta aku pingin keluar, namun aku bimbang,. “keluar kemana?kesini kesitu” bisikku dalam hati

Tak ada hujan atau angin, iman langsung mengajak ku keluar. “Keluar yuk bro”  pintanya.
Kmn? Kataku.

“Sudahlah bro, ikutin aja” kata nya

Menerobos kemacetan Jakarta, aku dan iman mempunyai misi sama. Yakni KELUAR!

Keluar dari kepenatan Jakarta, dimana orangnya cepat naik darah! “Kenapa ya”  pikirku

Ditengah perjalanan iman tampak terdiam, diam dan diam.hal itu pun membuat ku bertanya. “Man, sariawan lo ya”?

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, hampir 25 jam memaksa kami lelah! Namun akhirnya aku dan iman tiba disuatu tempat, tempat melarikan diri orang-orang yang tidak kuat menahan angkuhnya Jakarta.

“Angkuhnya aja orang-orang pada mendekat, apalagi kalemnya!” 

Ditempat ini tersebut kita tinggal selama 4 hari

Hari pertama diisi dengan istirahat, tidur  dipilih menjadi istirahat favorit, dihari pertama ini aku dan iman pun tidur, tidur dan tidur. Kayaknya memang ga ada kegiatan yang lebih baik saat ini selain tidur
Menurut buku yang ku baca “tidur merupakan istirahat favorit”. Cerita ku pada iman
“Tergantung istirahatnya juga” bantahnya

Tempat ini sungguh sangat bagus! “Amazing” hatiku berkata
sawahnya luas, pohon kelapa dimana-mana, udara sejuk! Sungguh enak sekali tinggal disini, beda banget sama di kota ya man?

Di hari berikutnya aku diajak iman jalan-jalan keliling desa. Sungguh girang sekali!

Kulihat anak-anak kecil berlari-lari riang, ayam-ayam berkokok bak baru bertelor, pedagang berseliweran namun ada satu hal yang menarik perhatianku.
“Tukang becak” yah becak, aku baru melihat lagi tukang becak setelah puluhan tahun tinggal di kota. Sejumlah kota besar di Indonesia memang melarang becak, becak dianggap membuat kota semrawut. Ungkapku pada iman

“Hidup dikota berbeda 4500 dari pada di kampung”. Celetuk iman   

Seharian aku dan iman keliling, mengelilingi tempat yang penuh dengan ketenangan, “surga dunia” cetusku. Yah memang semua orang yang datang kemari selalu bilang begitu, demikian iman berkomentar. Tempat ini bagaikan kilauan mutiara ditengah gurun pasir yang luas. Tak kusangka bisa sampai ke tempat ini, walau hanya sesaat tapi aku bersukur bisa ke tempat ini. Aku akan mengingatnya selalu.  Dikemudian hari aku akan kembali lagi ke tempat ini

Waktu berjalan dengan cepatnya, menerobos setiap keinginan manusia. Tak terasa aku sudah beberapa hari di tempat kau ya man! Kayaknya sudah saatnya aku meninggalkan tempat ini, tempat ini  merupakan salah satu tempat yang bisa bikin aku keluar, keluar dari kepenatan hidup..