Kuhampiri kuda besi yang terparkir di halaman rumah kost, tiba-tiba aku melihat tiga gadis yang melintas beberapa meter dihadapanku. Ketiga nya terlihat cukup akrab, bercanda dan sesekali terlihat melirik ke arahku dan tentu itu tidak saja membuat aku grogi, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri.
Akupun memperhatikan ketiga nya sampai lupa kalau aku sedang ditunggu seseorang. Ditengah perhatianku pada ketigannya akupun akhirnya terfokus pada salah satunya, kulihat adanya perbedaan dalam gadis itu, dia terlihat begitu anggun, wajahnya manis, kulitnya putih tingginya ideal.
“kalau kata orang sempurna” bisikku
Kutatap dia yang begitu anggun sampai terlintas bak ratu cleopatra dari mesir yang dengan kecantikannya dapat meluluhkan hati Julius Caesar. Dalam lamunan itu tiba-tiba aku tersadar, kulihat dia bersama dua rekannya berjalan menapaki jalan aspal yang telah hitam legam, jauh dan makin menjauh sembari tetap mengobrol asik.
“Pasti lagi ngerumpiin cowok” pikirku.
Tanpa pikir panjang kuikuti langkah ketiga nya. Dipersimpangan jalan ternyata salah satu berhenti, Kulihat dari kejauhan ternyata gadis itu. Yah, Gadis yang membuatku terkesima. sementara dua rekannya melanjutkan langkah ke rumahnya masing-masing. Aku tetap berada dibelakang gadis nya. Berhenti sejenak, kulihat dia mengambil kunci dari sakunya, kemudian memasukan kunci itu ke pintu, dan disaat dia masih terlihat di depan pintu sembari memegang kunci, aku berfikir ingin rasanya hati ini bilang “baru pulang neng” tapi “hmm”, susah. Susah sekali lidah ini mengeluarkan satu kata pun.tiba “krek” kudengar suara pintu terbuka, dan kulihat dia masuk. sementara aku masih terdiam tak bergerak tepat beberapa meter di depan rumahnya.
“parah-parah” sungguh sangat menyesel diri ini, “kenapa tadi ga ada kekuatan sama sekali tuk menegor’”bisikku, “kring-kring” Hp ku berdering, kulihat kawanku menelpon. akhirnya akupun segera melanjutnya perjalanan ke tempat kawanku, dan ditengah perjalanan itu, aku merasa kecewa, kecewa belum bisa berkenalan dengan gadis tersebut, aku berpikir, “pasti ada kesempatan kedua”,